Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Dan diantara manusia ada yang pembicaraanya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau [Muhammad] dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras”. [QS. Al-Baqarah [02] : 204].
Imam As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menyebutkan bahwea ayat diatas menggambarkan orang yang manis ucapannya, tetapi lain isi hatinya. Terkesima dengan ucapannya, terkesan dengan tindakannya, ternyata dalam kenyataan hanya ‘berpura-pura’. Tampilan yang tidak sesuai antara lisan, ucapan dan tindakan termasuk katagori penjilatan atau mencari muka.
Al-Qadli Iyadz dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, “Siapa yang mendatangi penguasa dan bermudahanah [menjilat] maka ia pasti jatuh kepada fitnah. Jika memberi nasehat dan menyuruh kepada kebaikan dan melarang kemunkaran, maka kedatangannya termasuk jihad yang paling utama” [Tuhfatul Ahwadzi, 6:533]. Yang dilarang mendatangi penguasa karena ada maksud kepentingan dunia. Tetapi jika mendatanginya untuk memberi nasehat seperti yang dilakukan Nabi Musa as mendatangi Fir”aun untuk mendakwahinya, maka perbuatan tersebut ‘sangat terpuji’.
Manusia penjilat disebut juga ‘dzul wajhain’ [berwajah dua]. Imam Nawawi menyatakan, yang dimaksud ‘bermuka dua’ adalah sikap berpura-pura berada diantara dua kelompok muslimin, menampilkan ‘wajah berbeda’ dengan wajah aslinya. Rasulullah saw bersabda, “Kalian pasti bertemu dengan orang yang paling Allah swt benci, yaitu mereka yang bermuka dua. Di satu kesempatan, mereka memperlihatkan satu sisi muka, namun di waktu lain mereka memperlihatkan muka yang berbeda” [HR Bukhari-Muslim].
Penjilat hakekatnya adalah menghinakan dirinya. Penampilan dirinya berlawanan dengan dengan hati nuraninya. Ia memuji secara berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian dari orang yang dijilatinya. Fenomena ini menggambarkan sebuah kepura-puraan ‘sang penjilat’ yang selalu mendekat karena ada maksud tersembunyi yang ingin diraihnya. Ali bin Abi Thalib dalam Nahjul Balaghah mengatakan, “Memuji lebih dari yang seharusnya adalah penjilatan”. Rasulullah saw bersabda, “Menjilat bukan termasuk ciri akhlak seorang mukmin” [Kanzul Ummal, hadits No. 29364].
‘Menjilat’ bertentangan dengan prinsip kejujuran dan merupakan kebohongan yang dibenci Allah swt. Cegah mudahanah !!! menjilat dan dan bermuka dua !!!
*) Penulis adalah Kepala KUA Tlanakan