Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga” [HR At-Thabrani dan Dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam Shahih al-Targhib wa Al-Tarhib No. 1084]
Syekh Maulana Muhammad Zakariya dalam kitab Fadhilah Amal menjelaskan, puasa yang tidak dapat menjauhkan dari maksiat dan dosa, maka puasanya sia-sia. Hadits ini menegaskan bahwa puasa akan kehilangan dimensi ketakwaan, menurut Abu Hamid al-Ghazali puasa bukan sekedar pengendalian lapar dan dahaga, melainkan penjagaan hati dan pengendalian sikap egois, yang peka terhadap ketimpangan sosial.
‘Esensi Ramadlan’ tidak hanya menahan makan dan haus [intermittent fasting] serta mengendalikan syahwat. Imam Ghazali menyebutkan dalam kitab Asrâr al-Shaum, bahwa Ramadlan sebagai jalan menapaki ketaatan dan kedekatan dengan Allah swt. Puasa ramadlan bermuara kepada ‘madrasah ketaatan’ yakni moment transformasi ketaatan yang ‘terus berlangsung dalam kehidupan’ [continues in life].
Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Al-Lathâif Al-Ma’ârif menyebutkan, bahwa bukti ketaatan seorang muslim terus menerus tanpa putus [Dar Ibnu Katsir : Beirut 1999 Cet. V hal 399]. Di bulan Ramadlan, orang beriman mengimplementasikan ketaatan dengan istiqamah beribadah dan senantiasa bertaqarrub kepada Allah swt. Puasa bagi seorang muslim memiliki kekuatan ‘resiliensi’ yakni ‘teguh’ beribadah tidak mengenal lelah, sekalipun sibuk urusan duniawi bukan penghalang untuk istiqomah beribadah.
Menurut American Psychological Association resiliensi dimaknai ‘kemampuan individu untuk beradaptasi dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup’, yang menggambarkan seseorang untuk bertahan dan bangkit kembali untuk tetap eksis. Momentum Ramadlan membangun ketahanan mental, sebagai sarana menghadapi berbagai rintangan sehingga tidak merasa terpuruk menghadapi problema kehidupan.
‘Resiliensi Ramadlan’ yakni kemampuan mental untuk bangkit dari tekanan hidup, yang ditempa melalui ibadah puasa dengan melatih kesabaran, menahan diri dari dorongan emosi dan luapan ambisi. Sebuah proses ‘detoksifikasi’ psikologis dengan mengubah rasa lapar dan dahaga agar bisa mengendalikan emosi menjadi control diri, menjernihkan hati dan pikiran serta mensterilkan perilaku dari virus yang merusak. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan, puasa memunculkan ketangguhan untuk eksis menghadapi dinamika kehidupan.
*) Penulis adalah Kepala KUA Kecamatan Tlanakan