Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik [kepada sesama manusia] ”. [QS. Al-Isra’ [17] : 53].
As Sa’di dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat diatas memerintahkan untuk berahlak, bergaul dan beramal mulia, yang menghantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Anak muda sekarang tidak asing dengan istilah ‘gaul’. Banyak yang berlomba-lomba mengikuti trend gaul agar tidak dibilang ketinggalan jaman. Syakir Daulay seorang hafidz asal Aceh mengatakan, menjadi anak muda gaul sah-sah saja, selama masih ingat dan taat kepada Allah swt.
Gaul tidak hanya sekedar mengikuti ‘trend’, tapi jangan sampai lupa dengan batasan. Saat bergaul, misalnya mengajak teman-teman ke masjid dan bergabung ke pengajian. Tatkala nongkrong di kafe berjam-jam, terdengar adzan berkumandang langsung mengajak teman-temannya untuk salat. Meskipun asik nongkrong dan ngobrol, jangan lupa dengan kewajiban syari’at. Pergaulan seperti ini tidak hanya dekat dengan Allah swt, tetapi juga bisa memperbaiki diri sendiri dan orang-orang sekitar kita.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Majmũ’ah al-Rasâil al-Imam al-Ghazali menyebutkan tentang pentingnya adab bergaul dengan ramah, lapang dada dan saling menghargai. Muhammad Awwamah dalam Adab al-Ikhtilâf fi al-Masâil al-llmi wa al-Din menjelaskan ‘fadlilah’ [keutamaan] adab berahlak mulia dalam pergaulan. Dalam bergaul dengan ‘fatsoen’ yaitu jangan sampai lupa ‘adab’. Bergaul dengan ‘qaul’ yang sopan, dengan sikap ta’dzim dan ‘tawadlu’, i menunjukkan rasa hormat dan tidak sombong. ‘Fatsoen’ berasal dari bahasa Belanda artinya sopan santun, budi pekerti, tata karma, etika, yakni aturan yang menekankan pentingnya berperilaku yang baik, beradab, bermoral dan menghormati orang lain.
Dalam Islam, fatsoen dipandang sebagai ‘adab’ yang menekankan pada ajaran berahlakul karimah, bergaul dan ber-qaul [berbicara] dengan baik. ‘Fatsoen’ pada intinya perwujudan keimanan seseorang yang terlihat dalam sikap, ucapan dan tindakan sehari-hari, merupakan cermin ‘uswah’ ahlak Nabi Muhammad saw.
Ibnul Qayyim dalam Madârij al-Sâlikīn mengatakan bahwa adab merupakan tanda kebahagiaan seseorang yang membawa kebaikan dunia dan akhirat. Fatsoen gaul dan qaul akan berdampak kebaikan !!!
*) Penulis adalah Kepala KUA Tlanakan