Oleh: Drs. Mulyono, M.A. *)
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepadamu sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan.”
(QS. An-Nisā’ [04]: 32)
Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam Tafsir Al-Munir mengomentari ayat di atas bahwa orang beriman hatinya harus bersih dari hasad. Ibnu Taimiyah dalam Majmū‘ Fatāwā memaknai hasad sebagai sikap benci dan tidak senang terhadap kebaikan seseorang. Menurut Imam Nawawi dalam Riyāḍuṣ Ṣāliḥīn, hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari seseorang yang memperolehnya, baik nikmat dalam urusan agama maupun dunia. Ibnu Hajar mengartikan hasad sebagai angan-angan yang menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang memilikinya.
Hasad merupakan penyakit sejak lama, sebagaimana terjadi pada tragedi Qabil putra Nabi Adam a.s. yang tega membunuh saudaranya sendiri, Habil, karena dipicu oleh sifat hasad. Allah SWT berfirman:
“Kemudian hawa nafsunya (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya. Maka dia pun benar-benar membunuhnya, sehingga ia termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Māidah [05]: 30)
Nabi Muhammad saw. bersabda:
“Hindarilah kalian dari sifat hasad, karena hasad memakan segala amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud)
Nabi saw. melarang hasad karena orang yang hasad tidak akan pernah puas dan cenderung mengharapkan orang lain berada dalam kesengsaraan.
Di era kompetitif, benih-benih hasad tumbuh subur. Persaingan bisnis, karier, dan jabatan sering menjadi pemantik saling rebutan dengan cara menyingkirkan demi ambisi dan keinginan. Harga diri dipertaruhkan dalam persaingan untuk merebut posisi puncak. Dengan segala cara dan raja tega, baik terang-terangan maupun tersembunyi, kompetitor diperlakukan sebagai lawan yang harus ditebas dan dilibas.
Awal mula hasad muncul dari iri dan dengki, karena tidak menyadari bahwa karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya—berupa harta, jabatan, pangkat, ilmu, kekayaan, kemuliaan, dan kejayaan—telah sesuai dengan takaran masing-masing yang tidaklah sama. Hindarilah hasad, karena ketika hasad mengkristal, ia akan menumpahkan fasad yang brutal berupa kerusakan dan kehancuran yang berdampak pada penderitaan dalam kehidupan.
*) Penulis adalah Kepala KUA Kecamatan Tlanakan