Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Bulan Ramadlan adalah [bulan] yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda [antara yang hak dan yang batil]”. [QS. Al-Baqarah [02] : 185].
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Allah swt menurunkan al-Qur’an sebagai hujjah yang jelas dan menjadi petunjuk untuk membedakan yang hak dan batil. Ramadlan datang kembali dan memberi kesempatan melalui hidayah Al-Qur’an untuk membersihkan debu-debu dosa. Ramadlan bukan hanya tidak makan dan minum, tapi Ramadlan melahirkan pribadi dengan karakter matang dan tenang secara spiritual, jujur secara moral dan memiliki kepekaan social. Ramadlan bukan ritual tahunan, tetapi ‘titik balik menata ulang hidup’ dan menemukan kembali makna hidup yang sebenarnya.
Ramadlan bulan turunya al-Qur’an, didalamnya terdapat jawaban bagi kegelisahan manusia modern tentang tujuan hidup, kesabaran dan harapan. Pada saat dunia menawarkan motivasi instan, Al-Qur’an menawarkan ketenangan jangka panjang.
Ramadlan bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga. Melainkan latihan ‘merestart diri’ dari segala yang merusak tingkah laku. Jika kita mampu menahan makan dan minum yang halal, seharusnya lebih mampu menjauhkan diri dari kebohongan, kedzaliman dan keserakahan. Ramadlan hadir seperti tombol reset. Puasa tidak mengubah apa-apa jika hati ‘tidak direset’ dan dibiarkan kotor, maka ibadah sering kali hanya tinggal rutinitas. Seorang pegawai yang rajin puasa dan salat, bahkan rajin ikut majlis pengajian. Tetapi di kantornya ia licik dan suka menjatuhkan rekan kerjanya demi jabatan. Ibadahnya rajin, tapi hatinya licin berlumuran iri dan dengki.
Ramadlan datang untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan dan ‘mereview’ arah hidup yang sebenarnya. Teknologi boleh semakin canggih dan maju, tetapi hati jangan sampai jauh dari-Nya. Dengan berpuasa ‘merestart diri’ meraih ketenangan ibadah dengan memperbanyak amal kebaikan. ‘Mereset hati’ untuk membersihkan diri dari ambisi, dengki dan iri. Pada akhirnya manusia kembali kepada-Nya dengan ‘qalbun salim’ , hati yang jernih dan pikiran steril. Hancurkan keserakahan, enyahkan rakus dan tamak serta memperbanyak syukur kepada-Nya.
*) Penulis adalah Kepala KUA Tlanakan